
ancaman
Gempa 8,7 SR Intai Jakarta, Apa yang Harus Dilakukan?
Pengunjung
dan karyawan berhamburan keluar dan berkumpul di lobi pusat perbelanjaan
Senayan City, Jakarta, Selasa (23/1). Mereka panik setelah terjadi gempa
berkekuatan 6,4 skala Richter yang berpusat di Lebak, Banten.
(Liputan6.com/Fery Pradolo)
Tragedi ganda melanda Batavia,
cikal bakal Jakarta, 5 Januari 1699. Berawal dari suara dentuman keras yang
memekakkan telinga. Asalnya dari selatan, dari Gunung Salak yang meletus
tiba-tiba. Tak lama kemudian, sekitar pukul 02.00 dini hari, giliran Bumi berguncang
hebat.
Pejabat
VOC di balik benteng, maupun rakyat kebanyakan yang hidup melarat, menjadi
saksi gempa Jakarta paling
hebat yang pernah menguncang kala itu. Banyak bangunan batu kokoh ambruk,
apalagi rumah-rumah gubuk yang seketika rata dengan tanah.
Sekitar
40 hingga 50 orang tewas terkubur hidup-hidup di bawah puing. Hanya itu yang
tercatat dalam sepucuk surat yang dikirim dari Batavia, yang kemudian dimuat
dalam harian berbahasa Belanda, Haerlemsche courant. Berapa jumlah
pasti korban, tak ada yang tahu.
Langit
merah, gemuruh yang tak kunjung diam di tengah pemandangan kota yang babak
belur dan pekat dengan aroma kematian, bikin nyali warga yang selamat kian
ciut.
Ternyata,
itu baru permulaan...
Pagi
harinya, Gunung Salak memuntahkan isi perutnya. Aliran lahar dingin mengalir
deras dari hulu Sungai Ciliwung dan Cisadane menuju Teluk Jakarta, nyaris
menyapu bersih Batavia.
Sungai-sungai
di Jakarta Lama berubah hitam. Lumpur bercampur alang-alang, pasir, bebatuan,
juga pohon-pohon setengah gosong yang tercabut hingga akar, membekap
aliran air.
Ribuan
kubik air kemudian tumpah membanjiri daerah tepian sungai, taman, dan jalanan.
Pun dengan ikan-ikan yang mati lemas akibat tercekik lumpur. Oud
Batavia nyaris jadi rawa.
Kala
itu, lele membuktikan dirinya sebagai makhluk tangguh.
"Ikan-ikan,
selain lele, mati di tengah air keruh bercampur lumpur," demikian seperti
dikutip dari buku An Historical Account of Earthquakes, Extracted
from the Most Authentick Historians karya Thomas Hunter.
Hewan-hewan
yang dikenal perkasa pun tak berdaya. "Bangkai kerbau, harimau, badak,
rusa, kera, dan sejumlah hewan liar lain tersapu bah dalam jumlah besar."
Buaya tak terkecuali. Banyak hewan amfibi itu ditemukan tak bernyawa.
Butuh
waktu berbulan-bulan untuk memulihkan kota. Gempa yang mengguncang 80 tahun
setelah Batavia didirikan oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen
benar-benar bikin susah.
Air
bersih harus didatangkan jauh-jauh dari Banten untuk memuaskan dagaha mereka
yang berpunya. Sementara rakyat jelata mungkin harus rela minum air campur
lumpur.
Bukan
kali itu saja gempa Jakarta mengguncang hebat.
Setidaknya tiga lindu setelahnya membawa kehancuran, yakni pada 1757, 1880, dan
1834. Semua episentrumnya tak berada di kota yang aslinya bernama Jayakarta
itu.
Catatan
sejarah menjadi bukti, Jakarta yang kini berstatus ibu kota dan kota terpenting
di Indonesia rawan gempa.
Untuk gempa Jakarta,
adagium Prancis, l'histoire se repete bisa terjadi -- bahwa
sejarah mungkin berulang. Namun, jangan sampai nestapa masa lalu berulang di
masa depan.
Sumber Gempa yang Mengancam
Jakarta
Sudah 184 tahun, hampir dua abad,
gempa dahsyat tak mengguncang Jakarta. Namun, jangan mengira jika Ibu Kota
steril dari lindu.
"Persepsi
bahwa Jakarta aman gempa adalah keliru," kata Kepala Badan
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, dalam
diskusi bertajuk "Gempa Bumi Megathrust Magnitudo 8,7. Siapkah
Jakarta?" pada Rabu 28 Februari 2018.
Pada 23
Januari 2018, misalnya, gempa 6,1, Skala Ritcher mengguncang Lebak,
Banten. Getarannya terasa sangat kuat di Jakarta, menggoyang gedung-gedung
tinggi, menciptakan kepanikan dalam skala massif.
Padahal, kekuatan
gempa itu baru kurang dari 1:10 kali dari guncangan gempa 9,1 yang pernah
mengguncang Aceh 2004 lalu.
"Karena
Jakarta ini tanahnya lunak dan dikepung patahan aktif. Entah dari mana saja
pusat gempanya, guncangannya pasti terasa kuat," tambah dia.
Ancaman
gempa Jakarta terkait dengan zona tumbukan antara Lempeng Indo-Australia
dan Eurasia, yang menunjam masuk ke bawah Pulau Jawa disebut sebagai zona
megathrust.
Berdasarkan
hasil kajian para pakar gempabumi, proses penunjaman lempeng tersebut masih
terjadi dengan laju 60-70 mm per tahun.
"Menurut
analisis para pakar gempa bumi, gerakan penunjaman lempeng tersebut
memungkinkan dapat mengakibatkan gempa megathrust dengan kekuatan atau magnitudo
maksimum yang diperkirakan dapat mencapai 8,7 skala Richter," kata
Dwikorita dalam siaran persnya, Jumat 2 Maret 2018.
Dia
menambahkan, meski para ahli mampu menghitung perkiraan magnitudo maksimum
gempa di zona megathrust, teknologi yang ada saat ini belum mampu memprediksi
dengan tepat, apalagi memastikan kapan terjadinya lindu.
"Kita
pun belum mampu memastikan apakah gempa megathrust 8,7 SR akan benar-benar
terjadi, kapan, di mana, dan berapa kekuatannya?," tambah dia.
Di
tengah ketidakpastian itu, yang perlu dilakukan adalah upaya mitigasi yang
tepat untuk meminimalkan risiko kerugian sosial ekonomi dan korban jiwa,
seandainya gempa benar-benar terjadi.
Menurut
Dwikorita, tindakan pencegahan dan mitigasi bencana lebih baik daripada
menebak-nebak -- apalagi paranoid -- soal kapan gempa besar akan terjadi.
"Makanya
perlu dicek itu mal-mal, hotel-hotel itu apakah pembangunannya sudah sesuai
dengan building code bangunan tahan gempa," kata dia
kepada Liputan6.com.
"Itu
sebenernya yang paling urgent, kita cek. Daripada menebak-nebak
gempanya kapan, jangan terjebak ke situ."
Dua
Sumber Gempa
Banner
Infografis Gempa Guncang Jakarta
Dihubungi
terpisah, ahli gempa Danny Hilman Natawidjaja mengatakan, ada dua sumber
gempa yang potensial mengguncang kuat wilayah Jakarta.
"Pertama
jauh (sumbernya) di Selatan Jawa sampai Selat Sunda. Walaupun jauh,
magnitudonya bisa besar sekali sampai 9 SR," kata dia saat dihubungi Liputan6.com.
Sementara,
kemungkinan kedua adalah dari darat, yang titiknya dekat sekali dengan Jakarta.
"Yaitu dari patahan atau sesar Baribis," jelas Danny.
Peneliti
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tersebut juga memaparkan, Jakarta
diduga terhubung dengan satu jalur gempa besar yang memanjang dari mulai Kota
Surabaya, Semarang, Tegal, Cirebon. Kendati, kekuatannya diperkirakan tidak
terlalu besar.
"Ini
diperkirakan, guncangannya tidak sampai magnitudo 8, tapi dekat sekali (dengan
Jakarta), malah bisa saja gempa itu lewat persis di bawah Jakarta," dia
mewanti-wanti.
Soal
Jakarta bertanah lunak, hal itu juga diamini Danny. Kontur seperti itu bisa
mengimplikasi kekuatan getaran gempa menjadi lebih kuat lagi.
"Jadi
getaran gempa datang dari sumbernya bisa diperparah dengan tanah setempat
Jakarta di tanah lunak. Ini amplifikasi, Misalnya (sumbernya) 2 magnitudo tapi
berimplikasi jadi 6," tutur dia.
Danny
menegaskan, gempa tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi. Sebab, siklus
patahan sudah ada sejak ratusan juta tahun lalu, sehingga gempa akan selalu
berulang. Inilah yang harus diwaspadai. "Lamanya siklus tersebut kadang
membuat lengah dalam hal pencegahan," kata dia.
Comments
Post a Comment